What a great beautiful sunny day for our 2012 friendly match between Ppi Wellington and PPI Palmerston North held at Onslow College.
Juara 2012 adalah sebagai berikut:
Bulutangkis tunggal putra: Sony Sultantiono (PPI Wellington)
Bulutangkis tunggal putri: Indah Mustika Dewi (PPI Palmerston North)
Bulutangkis ganda campur: Indah Mustika Dewi dan Bapak Bachtiar (PPI Palmerston North)
Bola voli putri: PPI Wellington
Bola voli putra: PPI Wellington
Futsal: PPI Wellington
Bola basket putra: PPI Wellington
Bola basket putri: PPI Wellington
JUARA UMUM: PPI Wellington
Terima kasih kepada kedua PPI wilayah untuk kontribusi dan energy kalian yang membuat hari ini menyenangkan dan SELAMAT untuk PPI Wellington yang telah membawa pulang kembali piala bergilir.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada:
1. Pengurus-pengurus dari PPI Wellington dan PPI Palmerston North yang organise untuk event ini
2. KBRI Wellington, Atase Pertahanan, Tante Afina dan Mas Bobby atas bantuannya
3. Semua pemain dan supporter yang datang hari ini
Semoga tali persahabatan antar PPI Wellington dan PPI Palmerston North akan semakin kuat di tahun-tahun kedepan dan event ini dapat mencangkup skala nasional.
Salam Pelajar,
PPI Wellington
Hasil Pertandingan Persahabatan Antar PPI Wellington dan PPI Palmerston North
Saturday, September 1, 2012
ANSWERS to Crossword Puzzle - Spirit of Independence of Indonesia
Saturday, August 18, 2012
Teka-Teki Silang untuk Menyambut Kemerdekaan Indonesia telah DITUTUP. Terima kasih kepada Bapak-bapak, ibu-ibu, dan teman-teman yang telah ikut berpartisipasi di kuis ini.
Berikut adalah jawaban dari kuis teka-teki silang:
ACROSS:
Berikut adalah jawaban dari kuis teka-teki silang:
ACROSS:
1,J: PROKLAMASI
3,A: REPUBLIK
5,M: GARUDA
6,C: PANCASILA
8,A: SOEDIRMAN
12,K: SUPRATMAN
14,A: LINGGARJATI
DOWN:
A,3: RENGASDENGKLOK
D,5: MAEDA
K,8: AGUSTUS
N,10: MERAUKE
R,1: SUMPAH PEMUDA
Pemenang undian berhadiah adalah: Timothy Radhitya Djagiri
Selamat dan terima kasih atas partisipasi-nya
Salam Pelajar,
Ppi Wellington
3,A: REPUBLIK
5,M: GARUDA
6,C: PANCASILA
8,A: SOEDIRMAN
12,K: SUPRATMAN
14,A: LINGGARJATI
DOWN:
A,3: RENGASDENGKLOK
D,5: MAEDA
K,8: AGUSTUS
N,10: MERAUKE
R,1: SUMPAH PEMUDA
Pemenang undian berhadiah adalah: Timothy Radhitya Djagiri
Selamat dan terima kasih atas partisipasi-nya
Salam Pelajar,
Ppi Wellington
CERPEN 2012
Selamat kepada para pemenang lomba Cerita Pendek 2012, yaitu:
Salam Pelajar,
- Juara I: Ibu Silviana Dewi Warli
- Juara II: Ahmad Fachry Agam
- Juara III: Ibu Astuti Azis
Cerpen para juara telah kami publikasikan di website ini dengan heading "JUARA I CERPEN 2012", "JUARA II CERPEN 2012" DAN "JUARA III CERPEN 2012".
Kami ingin berterima kasih kepada para juri atas bantuan dan arahan yang telah diberikan:
Kami ingin berterima kasih kepada para juri atas bantuan dan arahan yang telah diberikan:
- Bapak Duta Besar A Agus Sriyono (mewakili KBRI)
- Ibu Wimmy (mewakili KAMASI)
- Ibu Dwi Suwarningsih (mewakili PPI Wellington)
Terima kasih juga kami sampaikan kepada Things Unseen atas sponsor yang diberikan untuk hadiah pemenang Juara I.
Sekali lagi... selamat kepada para pemenang dan kami harap ditahun kedepan akan lebih banyak lagi yang ikut berpartisipasi di kompetisi ini.
Salam Pelajar,
PPI Wellington
JUARA I CERPEN 2012
KISAH SEORANG
VETERAN
Oleh Silviana D W
Di siang yang terik
itu, Pak Salimin berjalan terseok-seok di sudut jalan kota Jakarta yang berdebu
sambil sesekali berteriak lirih, “Buah.. Siapa mau beli, buah.. Buah pepaya
manis...” Beratnya pikulan dan teriknya matahari yang menaungi bumi Jakarta
siang itu tak terasakan olehnya. Peluh yang bercucuran di kening di sekanya
dengan lengan baju kotornya dengan lemah. Sesekali air mata menetes di
pipi keriput tuanya. Pandangannya memudar. Masih terngiang di benak Pak Salimin
percakapannya dengan Dokter Puskesmas kemarin siang.
“Cucu Bapak kena demam berdarah. Penyakit Prihantono lumayan cukup parah. Prihantono harus segera di bawa ke rumah sakit sebelum terlambat.”
Tapi sayangnya, surat saktinya sebagai veteran di negara tercinta ini tidak berlaku di rumah sakit tersebut.
Petugas administrasi rumah sakit tersebut berkata dengan lemah lembut namun tegas kalau Pak Salimin harus membayar uang muka terlebih dahulu sebelum berobat.
Pak Salimin melenguh. Pikulannya semakin terasa berat di pundak kurusnya. Darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan untuk makan hari ini saja ia tidak punya.
Pernah terlintas di benak tuanya andaikata pada saat berjuang dulu ia mau ikut bujukan teman seperjuangannya untuk ikut bekerjasama dengan pihak negara asing, pasti keadaannya tidak akan seperti sekarang ini.
“Cucu Bapak kena demam berdarah. Penyakit Prihantono lumayan cukup parah. Prihantono harus segera di bawa ke rumah sakit sebelum terlambat.”
Tapi sayangnya, surat saktinya sebagai veteran di negara tercinta ini tidak berlaku di rumah sakit tersebut.
Petugas administrasi rumah sakit tersebut berkata dengan lemah lembut namun tegas kalau Pak Salimin harus membayar uang muka terlebih dahulu sebelum berobat.
Pak Salimin melenguh. Pikulannya semakin terasa berat di pundak kurusnya. Darimana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan untuk makan hari ini saja ia tidak punya.
Pernah terlintas di benak tuanya andaikata pada saat berjuang dulu ia mau ikut bujukan teman seperjuangannya untuk ikut bekerjasama dengan pihak negara asing, pasti keadaannya tidak akan seperti sekarang ini.
-----
Salimin muda baru saja menyelesaikan pendidikan perguruannya di kota Bandung sesaat setelah Jepang menduduki Indonesia. Pada saat itu ia ikut berjuang melawan penjajahan Jepang di kota Bandung. Setelah Jepang di halau dari bumi Indonesia tercinta, salah seorang sahabat Pak Salimin membujuknya untuk ikut bekerja di perusahaan tambang yang tak lain adalah sebuah perusahaan asing yang secara terselubung menjual kekayaan tambang Indonesia ke negara asing. Salimin muda yang tidak mengetahui adanya kecurangan itu sempat bekerja beberapa tahun di perusahaan tersebut. Hal yang tidak sesuai dengan hati nuraninya membuat Salimin muda memilih meninggalkan kota Bandung dan menjadi guru yang jujur di sebuah sekolah kecil di pinggiran kota Jakarta.
Awalnya kehidupan Pak Salimin tidaklah berkekurangan. Tetapi semua mulai berubah ketika putri semata wayangnya wafat saat melahirkan Prihantono. Karena tidak tahan menanggung sedih, Ayah Prihantono memilih untuk pergi meninggalkan Prihantono untuk di asuh Pak Salimin dan isterinya. Mereka dengan penuh kasih sayang mendidik Prihantono.
Kehidupan Pak Salimim
berubah drastis ketika tumor ganas merenggut nyawa isterinya. Hartanya habis
untuk biaya pengobatan, meninggalkan Pak Salimin dan Prihantono hidup dalam
kepapaan. Mereka mencoba bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota
Jakarta.
Di usia pensiun tidak ada yang bisa Pak Salimin kerjakan kecuali dengan berjualan buah-buahan untuk menyambung hidup. Meski demikian, hal tersebut tidak membuatnya mengeluh.
Di usia pensiun tidak ada yang bisa Pak Salimin kerjakan kecuali dengan berjualan buah-buahan untuk menyambung hidup. Meski demikian, hal tersebut tidak membuatnya mengeluh.
Namun perjuangan Pak
Salimin rupanya belum berakhir. Cobaan demi cobaan bertubi-tubi menimpanya. Hal tersebut di perparah dengan munculnya penyakit
yang di derita Prihantono.
Pak Salimin tak ingin
menyerah. Sampai akhirnya, teman
seperjuangan Pak Salimin berusaha membujuknya untuk mau menerima uang sumbangan yang berasal dari perusahaan
tambang tersebut.
Pak Salimin menghela
napas panjang.
“Astaghfirullah al
azim..” ucapnya perlahan. “Walau bagaimana pun tidak akan pernah aku mau
menjual negara ku untuk negara lain hanya karena kepentingan pribadiku
sendiri.” Cobanya untuk menghalau
kenangan-kenangan sedih dari benaknya.
-----
Tengah melamun, Pak
Salimin dikejutkan dengan kedatangan serombongan anak muda yang tiba-tiba menyerbu
pikulan buah Pak Salimin. "Kami borong pepayanya ya Pak." kata
mereka. "Kami ingin memberi dukungan pada kawan-kawan yang sedang
melakukan aksi unjuk rasa menentang privatisasi perusahaan tambang Pak. Mereka
berunjuk rasa seharian di depan istana. Kelaparan. Semoga pepaya ini bisa
memberi tambahan energi, agar pemerintah mau mendengar suara kami untuk tidak
menjual perusahaan tambang itu ke pihak asing."
Pak Salimin terkesima mendengar ucapan anak-anak muda tersebut. Prinsip anak-anak muda tersebut sama dengan prinsip yang dipegangnya selama ini. Sudah seharusnya hasil bumi ini dinikmati oleh bangsa kita sendiri. Tidak hanya untuk sekelompok orang saja. Apalagi untuk orang asing.
Tanpa ragu, "Ambil saja pepaya ini, berapa pun yang kalian mau. Tidak perlu bayar", kata Pak Salimin. "Jadikan ini sumbangan saya untuk perjuangan kalian." Katanya lagi yang membuat anak-anak muda tersebut memeluknya penuh haru.
Pak Salimin terkesima mendengar ucapan anak-anak muda tersebut. Prinsip anak-anak muda tersebut sama dengan prinsip yang dipegangnya selama ini. Sudah seharusnya hasil bumi ini dinikmati oleh bangsa kita sendiri. Tidak hanya untuk sekelompok orang saja. Apalagi untuk orang asing.
Tanpa ragu, "Ambil saja pepaya ini, berapa pun yang kalian mau. Tidak perlu bayar", kata Pak Salimin. "Jadikan ini sumbangan saya untuk perjuangan kalian." Katanya lagi yang membuat anak-anak muda tersebut memeluknya penuh haru.
Pak Salimin tidak
peduli lagi dari mana ia bisa mendapatkan biaya pengobatan Prihantono. Ia
pasrah… Tuhan pasti tidak akan diam. Wajah Pak tua Salimin memancarkan senyum.
Senyum kemenangan karena sudah mendidik dirinya untuk menjadi pribadi yang
memegang teguh prinsip kebenaran. Pribadi yang bersih dan tidak tergiur dengan
iming-iming kekayaan melalui korupsi, seperti yang dilakukan banyak teman
seperjuangannya dulu, berpesta pora menjual kekayaan negara. Tidak peduli
dengan penderitaan rakyat. Sebagai seorang penjual pepaya, Ia bersyukur masih
bisa berbagi dan berjuang demi negara yang bersih dari korupsi…
-----
Matahari memerah di
ufuk barat. Pak Salimin berjalan perlahan, kelelahan. Kebahagiaan
menyelimutinya. Tiba-tiba dari arah yang tidak terduga sebuah sedan mewah
melaju kencang hilang kendali. Pak Salimin mencoba menghindari tapi terlambat
sudah.. Ciiiittttt.. braakk.. Pak Salimin merasa gelap menyelimuti
dirinya.. Yang terasa hanya gelap dan berat.. Darah berceceran.. Pepaya jualan
Pak Salimin jatuh bertaburan bercampur merah darah. Terdengar sayup-sayup suara-suara
ramai disekelilingnya. “Ya Allah, cepat.. cepat di bantu.. Kasihan Pak Tua itu.
Bagaimana keadaannya? Apakah masih hidup? Apakah masih bernafas? Coba periksa
detak jantungnya..” Dengan cepat segerombolan orang-orang ramai mengerubungi
Pak Salimin, sebagian ingin membantu, sebagian hanya ingin melihat.. Namun sayang sekali, jiwa Pak Salimin tidak
bisa tertolong. Inalilahi wa ina ilaihi rojiun.
Nafas terakhir Pak Salimin terbang membelah angkasa. Menembus dunia keabadian.
Nafas terakhir Pak Salimin terbang membelah angkasa. Menembus dunia keabadian.
-----
Sementara itu di gubug kecil di pinggiran kota Jakarta, cucu Pak Salimin menggigil kesakitan. Dipan kayu keras tempat tubuhnya tergeletak terasa dingin bagaikan es. Suhu badannya semakin tinggi dan penyakitnya semakin parah. Kakek tercinta yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Prihantono berbisik lirih memanggil-manggil Kakeknya, tapi tak ada yang menjawab. Hanya angin yang berdesir lirih. Detak jantung Prihantono semakin melemah dan melemah.
-----
Dan pagi itu, hujan membasahi dua kuburan baru di Jakarta. Kuburan seorang veteran dan cucunya...
Wellington, 16 Juli 2012
JUARA II CERPEN 2012
THE BATTLE
OF SURABAYA
Oleh Ahmad Fachry Agam.
The
war began…
Boots tramped.
Mud splattered as the men slowly marched their way across the desolate plains.
A melancholy feeling descended as I, and probably all the others fighting this cold
war thought about all our family we left at home. The kampong, villages we used to live in back
in the lush forests of Surabaya, or I should say the beautiful lands of
Indonesia. I could see the other army climb down the rugged hills, once a
paradise, now abandoned and destroyed as their expressionless eyes met ours.
Suddenly a huge
explosion rocked our world. My eyes were blinded and I slowly stood up, numb.
That was a mistake. Gunfire exploded and I quickly threw myself flat to the
ground. Bullets whizzed above and I could feel the tremors as mortars blew
earth and mud. I felt the ground shake and was swept in front of the men
charging. I braced my long, yet seemingly strong bamboo spear in front of me as
I slowly descended into a world of mud and war.
I remembered
once, there was a time when we lived in peace. We lived with harmony, obeying
the laws of nature and being kind and helpful. And not being greedy. To love
and share. But now…
I could see my
comrades falling to the ground all around me. Slammed my rifle butt into the
head onto an enemy beside me. Suddenly my rifle discharged, exploding and
cinders shooting out. I quickly threw it away to the ground beside me. Smoke
billowed and I suddenly saw all their guns aimed at me as they looked where the
smokescreen had come from. I quickly ducked down as I saw bullets spray the
ground around me. Pew Pew Pew! And
then the noise was lot to the war. Swords locked, rain started to fall in big
splashes, and soon we were sinking into mud. I could hear more guns firing as
the scene dissolved into chaos. I jumped back as a bullet seemingly
sprouted into the ground beside me. I could see mud, blood and dust, like a
dark storm, fly into my face and mud in my eyes as I shouted my war cry and
stabbed my spear forward. A young man sliced his bayonet and I quickly
discovered their way of fighting was very different. Grabbing my spear with two
hands, I slammed it at the man’s gun. His bayonet locked against my spear, both
straining to overcome the other.
Suddenly we
were lost by a rush of men running to, the reinforcements. But there was no
cheer. The war was just prolonged. And then we charged again. Mortars struck,
mines exploded and I could see men flying through the air. A metallic taste
filled my mouth as we struck down man after man. Soon we were lost in the
pattern: Stab, duck, stab, parry. The sky was blood red, and the ground same.
Soon we were staggering across no man’s land. I drew my sabre as a man swung
his broad sword at me. I quickly knocked him out with the flat of my blade,
then ducked as a sword sang threw the air above me. A man with a long, long
mustache swung his sword, and we locked hilt. Suddenly he twisted in one of
those strange sword moves, and disarmed me. I kicked him in the stomach. Ouch.
Then explosions shook the ground and all I could see was mud everywhere. Wet
and muddy, we struggled through the mud, our hands slippery and our morale low.
When was this
war going to end?
Grabbing my
spear, I stabbed at the young man in front of me. The Dutch soldier drew back,
and with one swift swipe of his sword he lopped of the head of my spear.
Splinters from the stick spiked into my hands and I could feel the raw sting.
But instead of standing there in shock, I smashed the bamboo stick at him,
causing his hand to spasm and his sword to fall. Grabbing the sabre, I slammed
the hilt into his stomach then kicked, the thin man falling back then finally
slipping into the sticky mud. I prepared to end the man’s life. But then I
realized that it’s also my
war, so I have a choice. My
sword wavered in the air as I pondered on my decision. I drew back sword and
tossed it away. Holding out my hand, I help the man up. Shocked, but relived to
be alive, the man stared for a seconded and then jumped back into the melee. I
looked at the battle, and knew that this was a war, worlds away from me. I have to stop this war. To save
the people.
Suddenly the
earth shook. The few trees left in shivered. A tank drew up, its massive size
out scaling all the men.
But deep inside
I knew what to do.
“Stop!” I
commanded, running up to the tank. “We have to stop this war!”
I looked up to
the great tank. The army froze its fight. And then suddenly a blinding flash
seared my senses. I could see darkness drawing and I let go.
But now, in
most places thanks to the acts of many people, should I say Heroes, the world
is safe and we can roam with freedom and happiness. So far the war maybe over, but the battle is still going in Indonesia for
the best and free education. So we should help those who aren’t so lucky.
JUARA III CERPEN 2012
HARDIKNAS
Oleh Ibu Astuti Azis
Januari 2012
Pukul 1.30 Siang,
Terik
sempurna….sudah 15 menit kududuk didepan kompleks perumahan yang terletak pas
di jalan provinsi ini menunggu seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Yah…dia
adalah salah seorang partisipan yang akan kuwawancarai dalam rangkaian
penelitianku. Ini merupakan pertemuan keduaku dengannya tanpa kusadari siapa sesungguhnya
pahlawan ini. Kuputuskan untuk memilih dia karna responnya terhadap kuisioner
yang kuberikan padanya bulan lalu begitu unik, begitu meyakinkan, menunjukkan konsepsi
yang sangat kuat: mengajar dan melakukan penilaian untuk meningkatkan
pembelajaran. Untung saja dia melengkapi kesulurah kuisioner itu termasuk imbauanku
untuk membubuhkan nomor kontak jika bersedia diwawancarai.
Sepuluh menit
berlalu…ditempat yang sama, kusibuk memperhatikan manusia lalu lalang, maklumlah
kota kecil ini belakangan diserbu beraneka mini market, mulai dari Indo maret,
Alfa midi, Alfa express, Makro indotim dan banyak lagi. Konon katanya mereka
hanya memerlukan tempat lalu isinya akan dipenuhi oleh pihak pertokoan lantas
bagi hasil dengan pemilik tempat.
Lagu ‘Insyaaalah” milik Maher Zain mengalun
dari HPku, nomor tak kukenal, siapa yah?
“Assalamu Alaikum
ibu, maaf, saya Asmah Kartini, mau mengabarkan ini baru saya keluar dari rumah
bu, soalnya barusan tamu suami saya pulang…” suara itu terdengar ramah sekaligus
terkesan bersalah…
Kembali aku
menunggu, entah untuk berapa lama…..
Lima belas
menit kemudian, sebuah motor Honda tiger yang ditumpangi dua orang berperawakan
bongsor tepat berhenti dihadapanku.
“ Maaf
bu…membuat ibu lama menunggu” kata wanita itu setelah membuka helm tutupnya.
Oh…jadi ini
orangnya…kureka usianya sekitar awal 30-an, badannya memang besar tapi kulit
segar sedikit berminyak plus senyum yang selalu terkulum dibibirnya menandakan
ia berjiwa muda dan hangat. Kutawarkkan ia untuk memarkir motor dan menggunakan
kendaraan kami menuju Donald Mee tempat yang ia pilih untuk makan siang. Well
ini bagian dari treatment yang kuberikan pada responden penelitianku…apalagi
untuk sosok yang tak kukenal seperti bu Kartini ini.
Kami mengawali
percakapan dengan santap siang yang lezat, kucoba membangun chemistry diantara
kami, kutanya soal pengalaman mengajarnya, dengan ramah ia membuka kisah……
“Saya masih
baru bu…baru 4 tahun mengajar tapi baru saya yang PNS di sekolah saya, makanya
kepala sekolah juga menunjuk saya jadi wakilnya” katanya tersenyum bangga.
Ya, di tempat
kami ini, menjadi PNS adalah sebuah jaminan masa depan…gaji teratur, kesehatan
terjamin, dana pensiun tersedia dan boleh memarkir SK di Bank jika ada keperluan
heheh ….
Wawancara
kami berlangsung begitu santai…dia menjawab lugas semua pertanyaanku, daya
tangkapnya bagus, jawabannya selalu disertai binar mata antusias, dia terkesan perhatian,
sangat sesuai dengan respon yang diberikannya terhadap kuisionerku…
Tapi saya
lebih tertarik pada cerita tentang perjuangannya menjadi pendidik…
“Sekolah saya
bu adanya di pesisir, saat ini dalam satu sekolah kami hanya memiliki 36 orang
siswa”
“Iya bu,
sungguh..” katanya menanggapi reaksi kagetku.
“Bahkan dulu
waktu sekolah itu baru berdiri, saya mesti keliling kampung mencari siswa bu….saya
mesti meyakinkan para orang tua untuk menyekolahkan anaknya, juga memastikan
kalau sekolah itu gratis”.
Di daerah ini,
sejak 4 tahun lalu bupati setempat telah menetapkan pendidikan SD-SMA gratis dalam
upaya meraup suara, bahkan siswa miskin boleh tak memakai seragam kesekolah jika
memang ia tidak mampu membelinya. Sungguh sebuah program yang sangat memihak
wong cilik. Well untuk konteks masayarakat di tempat bu Kartini ini kebijakan
serupa rasanya pas saja tapi di beberapa sekolah semisal SMK rasanya sangat
tercederai. Salah satu SMK dekat rumah saya bahkan aliran listriknya dicabut
setiap 6 bulan karena urusan dana telat hingga 4-5 bulan ementara sekolah tidak
diperkenankan memungut dana sepeserpun dari siswa.
Dia bercerita
dengan penuh semangat, sesekali menyeka keringat, juga tertawa lepas. Katanya
sumber penghasilan utama masyarakat disekitar sekolahnya adalah menganyam tikar
daun pandan atau menjual ‘bironcong’[1].
Jika anak sudah tamat SD, bisa membaca, menulis dan mampu menganyam atau
menjual bironcong maka itulah hidupnya…tak perlu lanjut SMP apalagi SMA. Katanya
kasadaran orang tua dibidang pendidikan disana sangat memprihatinkan…untunglah,
keberadaannya sebagai guru masih sangat dihormati. Dari ceritanya saya bisa menyimpulkan
bahwa imbuan bu Kartini ini masih didengar dan dipatuhi warga. Mungkin juga karna
dia adalah putri mantan kepala desa yang menjabat 2 periode.
“Sekarang
sekolah kami lebih bagus bu, karna akhirnya dijadikan SATAP (Sekolah Satu Atap)
sehingga siswa SD diupayakan bisa langsung masuk SMP, itupun saat ini masih 36
orang, yang jelas jumlah ini jauh lebih banyak dari tahun lalu” katanya
tersenyum penuh arti.
“ Saya sangat
menikmati mengajar disni bu..kebetulan ini kampung saya. Ibu tahu tidak...saya
merasa sangat berarti disini…mereka membutuhkan saya. Kalau waktu istirahat
tiba, saya sering diserbu siswa mereka minta diberi jajan, ditraktir es lilin
atau snak lainnya. Bayangkan bu…buat jajan saja mereka gak mampu apalagi kalau mereka
diminta beli buku atau kamus…aduh jauh itu”.
“Belum lagi
kendala bahasa, kalau saya ngajar bu, saya pakai tiga bahasa, mereka ini kan
bahasa Indonesianya belum lancar, jadi kalau saya beri kosa kata baru dalam
bahasa Inggris saya mesti terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia plus bahasa
Makassar” lanjutnya antusias.
Hmmm…wawancara
kami sungguh menarik, tak sabar rasanya ingin ku transkrip dan kuberikan
padanya untuk dicek. Untuk rencana ini aku memilih untuk mengunjunginya…..
Sesuai petunjuk yang diberikan di telfon,
ditemani suami, saya mengunjungi ibu Kartini yang sederhana nan perkasa
itu…lega rasanya berkendara di sepanjang hijaunya persawahan tanpa kami sadari
jika telah tersesat jauh. Alhamdulillah setelah bertanya beberapa kali sambil
menjual nama ayah bu Kartini yang mantan Kades itu kami tiba di tempatnya
dengan selamat.
Senyum ramah
mantan Kades menyambut kami, seluruh isi rumah bahkan keluar dan menyalami
kami….plus dengan senyum lebar masing-masing…ah..sambutan luar biasa. Suasana
disini terasa agak kering dan panas, beda sekali dengan areal persawahan yang
kami lewati tadi. Dari kejauhan kudengar deru ombak.
“ Di ujung jalan
ini sudah laut bu” kata bu Kartini melihatku memegang telinga….
Siang itu,
kami dijamu makan siang istimewa… lauknya sederhana tapi terasa begitu nikmat
mungkin karena disajikan dengan ihlas apalagi ikan segar itu baru saja diambil
dari perahu tetangga yang baru saja pulang melaut. Kami menyebutnya
juku eja (pink fish) dan ikan kembung,
di bakar tanpa bumbu tersaji di atas meja…disebelahnya terdapat piring kecil
berisi garam kasar, sedikit air dan Lombok biji (cabe merah). Hmm….betapa
nikmat rasanya…apalagi ditambah sayur daun kelor plus kacang ijo dimasak
seadanya, juga mengepul...Alhamdulillah.
Setalah membaca
hasil transkrip wawancara, Bu Kartini mengajakku berkunjung ke sekolah yang
berjarak beberapa meter saja dari rumahnya. Sepanjang jalan silih berganti
masyarakat sedikit membungkuk, tersenyum dan menyapa beliau dengan hormat “Bu
guru…” begitu sapa khas mereka. Beberapa orang siswa yang berpapasan,
menyempatkan diri untuk singgah mencium tangan sang guru bahkan mereka yang
sedang membantu orang tua menganyam tikarpun berlari menghambur menyapa sang
guru sebelum melanjutkan aktifitas, beberapa diantara mereka bahkan mengikuti
kami sehingga kunjungan ini terlihat seperti iring-iringan resmi.
Dalam hati saya
iri…”siswa saya gak sampai segitunya”, batinku...mungkin karna sekolah saya
letaknya di kota, hatiku berdalih…
Ucapan ‘Selamat
Datang di SATAP SalakKo’. Terpampang gagah di gerbang sekolah
“Inilah
sekolah kami bu” kata Bu kartini bangga, kulihat senyum merekah di bibir siswa
yang mengiringi kami.
Saya sedikit
terkejut, bangunan sekolah ini terbilang sangat bagus…apalagi untuk ukuran desa
seperti Salakko ini
“Sekolah ini
dibangun oleh pihak AusAid bu’ makanya kelihatannya begini, bahkan didalam lumayan
canggih, dulu WC siswa dan guru diberikan WC duduk dilengkapi dengan westafel
juga cermin…tapi hanya butuh beberapa bulan lalu kloset-kloset itu rusak, itu
karna masyarakat disini tidak biasa buang air dengan duduk”. Papar bu Kartini
lagi, siswanya terlihat sedikit malu, mungkin merasa disindir…
Hmmm ini
sangat kupahami…cerita serupa seringkali kudengar dari teman yang mengajar di
pelosok dengan sekolah bantuan AusAid, itu karna mereka kurang lebih mengikuti
standard penyandang dana padahal masyarakat setempat belum siap untuk hal
serupa.
Bu Kartini terus
berkisah….”Disini bu, kalau kelas satu biasanya jumlah siswa bisa sampai 15
hingga 17 orang, tapi kalau masuk musim
panen akan berkurang karna beberapa siswa memilih menjadi buruh musiman[2]
untuk membantu keluarganya, naik ke kelas 2 jumlah siswa akan semakin berkurang
begitu seterusnya, pokoknya kami disini menempuh segala cara untuk membuat
siswa betah”.
Dia juga
melanjutkan cerita bahwa tahun lalu adalah kali pertama sekolah itu mengikuti Ujian
Akhir Nasional. Seyogyanya ada 6 orang siswa yang ikut tes tapi seorang siswa
lebih memilih menjual bironcong daripada mengejar ijasah SMP. Akhirnya katanya
hanya 5 siswa yang diikutkan.
“ Itu lagi
bu, masa sehari menjelang ujian, satu orang siswa kawin lari!”
“Masyaallahh!
Bu”
“Janganmaki
bu”, katanya menimpali keterkejutanku dengan logat Makassar yang begitu kental,
“Tiga rumah imam kudatangi baru kudapat itu anak”.
Di Makassar, orang
yang kawin lari akan menetap di rumah seorang Imam desa yang berfungsi sebagai the guardian kedua sejoli sebelum mereka
kembali ke keluarga.
“Bayangkan Bu…subuh-subuh
saya jemput itu anak di rumah pak imam lalu dikawal pak imam dan seorang polisi
kami menuju sekolah untuk ujian, tiga hari bu, tiga hari setiap subuh saya
jemput, alhamdulilah anak itu lulus ujian!”
You know what! Ini pekerjaan yang penuh resiko lho! Mungkin anda pernah
mendengar istilah Sirik na Pacce yang
jadi pegangan orang Makassar. Prinsip ini mengajarkan tentang kehormatan dan
kepedulian. Pelaku kawin lari adalah pelanggar adat, dia telah menghilangkan Sirinya (kehormatanya) dan membuat malu
keluarganya sehingga dia tak layak dipaccei
(tak perlu dipedulikan lagi). Dalam hukum adat di tempat kami, jika seorang
pelaku kawin lari ditemukan oleh tumasirik
atau keluarganya, maka dia bisa langsung ‘dihabisi’ di tempat itu! Untuk itulah
makanya Bu Kartini bahkan melibatkan polisi untuk menjaga keamanan si anak
tadi…subhanallah…
Bulu kuduk
saya berdiri mendengar uraiannya ini, saat itu yang ada di fikiran saya adalah
beliau ini pantas diundang Andy F Noya sebagai tamu untuk talkshow Kick Andy yang
terkenal itu. Ah sudahlah at least saya bisa membaginya pada anda di Wellington
ini….yah pejuang pendidikan nan sederhana, perkasa dan berani itu itu bernama
Kartini….
CROSSWORD PUZZLE - SPIRIT OF INDEPENDENCE OF INDONESIA
Thursday, August 9, 2012
TEKA-TEKI SILANG untuk memperingati HUT KEMERDEKAAN RI
Silahkan klik link di bawah untuk diarahkan ke kuis ini
http://vuw.qualtrics.com/SE/?SID=SV_41qWCWExKzOPKh7
Yang berhasil mengisi teka-teki silang ini sampai selesai bisa masuk ke undian berhadiah.
Kuis ini akan di tutup pada HUT KEMERDEKAAN RI (17 Augustus 2012) pukul 10.00 (waktu yang sama saat Bung Karno didampingi Bung Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia 67 tahun yang lalu)
Selamat mencoba dan MERDEKA!
Ppi Wellington
Saman Dance Workshop
You've see it danced... now you get the chance to learn it!
Next Wednesday, 15 August 2012, 1-2pm at Kelburn Rec Center
See you all there!
Next Wednesday, 15 August 2012, 1-2pm at Kelburn Rec Center
See you all there!
Upacara untuk Merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-67
Tuesday, August 7, 2012
Dear teman-teman,
Meneruskan informasi dari KBRI:
Dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-67 di Selandia Baru, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk menghadiri Upacara Bendera yang akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Jumat, 17 Agustus 2012
Pukul : 10.00-selesai
Tempat : KBRI Wellington
70 Glen Road, Kelburn
Pakaian : Bebas rapi
Peserta upacara diharapkan hadir 30 menit sebelum upacara dimulai.
Demikian, atas kehadiran diucapkan terima kasih.
Fungsi Penerangan Sosial Budaya
KBRI Wellington
CERPEN: 2 WEEKS TO GO!
Sunday, July 15, 2012
CERPEN... 2 Weeks 'till deadline!!! Come on guys! get writing... Lots of prizes including a beautiful necklace from Things Unseen. For info see below:
Lomba ini terbuka untuk kalian semua dan berikut adalah informasi mengenai lomba ini:
Tema: Pendidikan, Kemerdekaan dan Kepahlawanan
... Bahasa: CERPEN dapat ditulis menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris
Periode Penerimaan Cerpen s/d tanggal 3 Agustus 2012, pukul 17.00
Untuk registrasi dan pengiriman CERPEN, peserta diharapkan untuk menghubungi Yulia Krismon (seksi edukasi PPIW) melalui email: alia@ppiwelington.org.nz.
Biaya: $5.00/peserta
Uang pendaftaran dapat dibayar melalui bank transfer ke:
Nama Akun: Perhimpunan Pelajar Indonesia
Nomor Akun: 06 – 0581 – 0163595 – 00
Bank: Nasional Bank
Cabang: Lambton Quay, North end
Alternatif biaya pendaftaran dapat dibayar secara tunai melalui pengurus PPIW 2012 (Ardya, Ardian, Ovy, Gaby, Alia, Kandita, atau Matheus).
Pengumuman Pemenang: 17 Agustus 2012
Dewan juri: Bapak Duta Besar Agus Sriyono (perwakilan dari KBRI), Ibu Wimmy (perwakilan dari KAMASI) dan Ibu Dwi Surwaningsih (perwakilan dari PPIW).
Kita tunggu submission-nya!
Cheers :)
Ppi Wellington
Lomba ini terbuka untuk kalian semua dan berikut adalah informasi mengenai lomba ini:
Tema: Pendidikan, Kemerdekaan dan Kepahlawanan
... Bahasa: CERPEN dapat ditulis menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris
Periode Penerimaan Cerpen s/d tanggal 3 Agustus 2012, pukul 17.00
Untuk registrasi dan pengiriman CERPEN, peserta diharapkan untuk menghubungi Yulia Krismon (seksi edukasi PPIW) melalui email: alia@ppiwelington.org.nz.
Biaya: $5.00/peserta
Uang pendaftaran dapat dibayar melalui bank transfer ke:
Nama Akun: Perhimpunan Pelajar Indonesia
Nomor Akun: 06 – 0581 – 0163595 – 00
Bank: Nasional Bank
Cabang: Lambton Quay, North end
Alternatif biaya pendaftaran dapat dibayar secara tunai melalui pengurus PPIW 2012 (Ardya, Ardian, Ovy, Gaby, Alia, Kandita, atau Matheus).
Pengumuman Pemenang: 17 Agustus 2012
Dewan juri: Bapak Duta Besar Agus Sriyono (perwakilan dari KBRI), Ibu Wimmy (perwakilan dari KAMASI) dan Ibu Dwi Surwaningsih (perwakilan dari PPIW).
Kita tunggu submission-nya!
Cheers :)
Ppi Wellington
Acara Pisah Kenal
Thursday, July 12, 2012
Dear Teman-teman Mahasiswa Indonesia di Wellington dan sekitarnya,
Menambahkan undangan terdahulu mengenai acara ramah tamah dengan delegasi GKSB DPR-RI pada tanggal 17 Juli 2012, acara tersebut juga akan didahului dengan acara perkenalan denan Ibu Muniroh Rahim, perkenalan staf baru KBRI Wellington, dan perpisahan Sdr. Arry Akosah pada jam 17.30.
Untuk keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada undangan terlampir.
Terima kasih.
Salam,
Ppi Wellington
Menambahkan undangan terdahulu mengenai acara ramah tamah dengan delegasi GKSB DPR-RI pada tanggal 17 Juli 2012, acara tersebut juga akan didahului dengan acara perkenalan denan Ibu Muniroh Rahim, perkenalan staf baru KBRI Wellington, dan perpisahan Sdr. Arry Akosah pada jam 17.30.
Untuk keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada undangan terlampir.
Terima kasih.
Salam,
Ppi Wellington
Temu Wicara dan Ramah Tamah dengan Delegasi GKSBI DPRRI
Yth. Teman-teman Mahasiswa Indonesia di Wellington dan sekitarnya,
Meneruskan informasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia sebagai berikut:
Sehubungan dengan kunjungan kerja Delegasi Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) DPRRI ke Selandia Baru, dengan hormat kami mengundang seluruh warga masyarakat Indonesia di Wellington dan sekitarnya untuk menghadiri kegiatan "'Temu Wicara dan Ramah Tamah" dengan Delegasi GKSB DPR-RI yang akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal: Selasa/17 Juli2012
Pukul : 18.30 s.d 20.30 malam
Tempat : Ruang Nusantara KBRI Wellington
70 Glen Road, Kelburn
Pakaian : Bebas rapi/batik
Pada kesempatan tersebut juga akan hadir delegasi dari Universitas Paramadina, Jakarta yang pada saat ini sedang melakukan pelatihan di Universitas Victoria.
Terima kasih.
Salam Pelajar,
PPI Wellington
PPI Wellington
Lomba CERPEN Diperpanjang dengan HADIAH-HADIAH MENARIK
Thursday, June 28, 2012
Hi Teman-teman,
Bagaimana semester 1? Mudah-mudahan semua lancar yah....
Masih ingat kan Ppi Wellington mengadakan lomba Cerita Pendek (CERPEN) beberapa bulan yang lalu dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional? Lomba ini telah diperpanjang untuk juga memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan HADIAHNYA LEBIH BANYAK DAN LEBIH MENARIK!!!!
Lomba ini terbuka untuk kalian semua dan berikut adalah informasi mengenai lomba ini:
Tema: Pendidikan, Kemerdekaan dan Kepahlawanan
Bahasa: CERPEN dapat ditulis menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris
Periode Penerimaan Cerpen s/d tanggal 3 Agustus 2012, pukul 17.00
Untuk registrasi dan pengiriman CERPEN, peserta diharapkan untuk menghubungi Yulia Krismon (seksi edukasi PPIW) melalui email: alia@ppiwellington.org.nz.
Biaya: $5.00/peserta
Uang pendaftaran dapat dibayar melalui bank transfer ke:
Nama Akun: Perhimpunan Pelajar Indonesia
Nomor Akun: 06 – 0581 – 0163595 – 00
Bank: Nasional Bank
Cabang: Lambton Quay, North end
Alternatif biaya pendaftaran dapat dibayar secara tunai melalui pengurus PPIW 2012 (Ardya, Ardian, Ovy, Gaby, Alia, Kandita, atau Matheus).
Pengumuman Pemenang: 17 Agustus 2012
Dewan juri: Bapak Duta Besar Agus Sriyono (perwakilan dari KBRI), Ibu Wimmy (perwakilan dari KAMASI) dan Ibu Dwi Surwaningsih (perwakilan dari PPIW).
Untuk informasi yang lebih, hubungi saja salah satu pengurus PPIW atau post pertanyaan dengan cara memberikan comment dibawah post ini.
Ayo semua!!! Sekarang ujian akhir semester sudah mau selesai kan? Ditunggu yah CERPEN-nya :)
Salam,
PPI Wellington
Bagaimana semester 1? Mudah-mudahan semua lancar yah....
Masih ingat kan Ppi Wellington mengadakan lomba Cerita Pendek (CERPEN) beberapa bulan yang lalu dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional? Lomba ini telah diperpanjang untuk juga memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan HADIAHNYA LEBIH BANYAK DAN LEBIH MENARIK!!!!
Lomba ini terbuka untuk kalian semua dan berikut adalah informasi mengenai lomba ini:
Tema: Pendidikan, Kemerdekaan dan Kepahlawanan
Bahasa: CERPEN dapat ditulis menggunakan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris
Periode Penerimaan Cerpen s/d tanggal 3 Agustus 2012, pukul 17.00
Untuk registrasi dan pengiriman CERPEN, peserta diharapkan untuk menghubungi Yulia Krismon (seksi edukasi PPIW) melalui email: alia@ppiwellington.org.nz.
Biaya: $5.00/peserta
Uang pendaftaran dapat dibayar melalui bank transfer ke:
Nama Akun: Perhimpunan Pelajar Indonesia
Nomor Akun: 06 – 0581 – 0163595 – 00
Bank: Nasional Bank
Cabang: Lambton Quay, North end
Alternatif biaya pendaftaran dapat dibayar secara tunai melalui pengurus PPIW 2012 (Ardya, Ardian, Ovy, Gaby, Alia, Kandita, atau Matheus).
Pengumuman Pemenang: 17 Agustus 2012
Dewan juri: Bapak Duta Besar Agus Sriyono (perwakilan dari KBRI), Ibu Wimmy (perwakilan dari KAMASI) dan Ibu Dwi Surwaningsih (perwakilan dari PPIW).
Untuk informasi yang lebih, hubungi saja salah satu pengurus PPIW atau post pertanyaan dengan cara memberikan comment dibawah post ini.
Ayo semua!!! Sekarang ujian akhir semester sudah mau selesai kan? Ditunggu yah CERPEN-nya :)
Salam,
PPI Wellington
Undangan Perkenalan dan Perpisahan 16/3/2012
Wednesday, March 7, 2012
Dear Teman-teman,
Bersama ini dengan hormat KBRI mengundang teman-teman mahasiswa di Wellington dan sekitarnya untuk menghadiri acara perpisahan dengan Bapak Nelson Simorangkir & keluarga, serta perkenalan staff baru KBRI Wellington, Ibu Nisa Asniasita & keluarga yang akan dilaksanakan pada:
Hari: Jumat
Tanggal: 16 Maret 2012
Jam: 18.00 malam s/d selesai
Tempat: Ruang Nusantara KBRI, 70 Glen Road, Kelburn, Wellington
Pakaian: Bebas rapih
Guna pengaturan penyediaan konsumsi, mohon konfirmasi kehadiran pada acara tersebut dapat disampaikan kepada Sdr. Satya Duhita, 04-475-8697 pes. 720.
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih
PPIW
(Mewakili KBRI)
Bersama ini dengan hormat KBRI mengundang teman-teman mahasiswa di Wellington dan sekitarnya untuk menghadiri acara perpisahan dengan Bapak Nelson Simorangkir & keluarga, serta perkenalan staff baru KBRI Wellington, Ibu Nisa Asniasita & keluarga yang akan dilaksanakan pada:
Hari: Jumat
Tanggal: 16 Maret 2012
Jam: 18.00 malam s/d selesai
Tempat: Ruang Nusantara KBRI, 70 Glen Road, Kelburn, Wellington
Pakaian: Bebas rapih
Guna pengaturan penyediaan konsumsi, mohon konfirmasi kehadiran pada acara tersebut dapat disampaikan kepada Sdr. Satya Duhita, 04-475-8697 pes. 720.
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih
PPIW
(Mewakili KBRI)
Database PPIW 2012
Monday, March 5, 2012
Teman-teman Mahasiswa Indonesia di Wellington,
Untuk memastikan kalian semua mendapat informasi lengkap mengenai aktivitas-aktivitas PPIW dan acara-acara lainnya, kami mohon untuk mengisi database PPIW 2012 di link ini (http://vuw.qualtrics.com/SE/?SID=SV_9So7m81GIubTeLy ).
Database ini khusus untuk teman-teman yang masih menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Wellington dan sekitarnya. Untuk teman-teman Alumni PPIW, kami akan membuat database khusus untuk Alumni PPIW dan akan kami post secepatnya.
Terima Kasih dan Salam Pelajar,
PPIW
Untuk memastikan kalian semua mendapat informasi lengkap mengenai aktivitas-aktivitas PPIW dan acara-acara lainnya, kami mohon untuk mengisi database PPIW 2012 di link ini (http://vuw.qualtrics.com/SE/
Database ini khusus untuk teman-teman yang masih menempuh studi di salah satu perguruan tinggi di Wellington dan sekitarnya. Untuk teman-teman Alumni PPIW, kami akan membuat database khusus untuk Alumni PPIW dan akan kami post secepatnya.
Terima Kasih dan Salam Pelajar,
PPIW
Meet and Greet Pengurus dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia-Wellington (PPIW)
Kepada:
Yth. Bapak/Ibu/Sdr/Sdri
Teman-teman Mahasiswa Indonesia
Di Wellington dan sekitarnya
Bersama ini kami umumkan bahwa pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 17 Maret 2012
Waktu : 16.30 sore
Tempat : Ruang Nusantara – KBRI, 70 Glen Road, Kelburn – Wellington
Akan diadakan “Meet and Greet Pengurus dan Anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia-Wellington (PPIW)”
Adapun susunan acara sebagai berikut:
16.30 – 17.00: Sambutan Duta Besar RI Wellington & perkenalan tim pengurus PPIW 2011-2012
17.00 – 17.15: Uraian kegiatan PPIW 2012 & tanya jawab
17.15 – selesai: Light snack & pengisian database PPIW 2012
Bagi teman-teman mahasiswa yang berminat untuk datang, kami harapkan untuk mengkonfirmasikan kehadiran/RSVP ke e-mail pelajarwellington@yahoo.co.nz selambat-lambatnya pada tanggal 15 Maret 2012.
Dimohon untuk dapat datang sebelum pukul 16.30 agar acara dapat dimulai sesuai jadwal.
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih.
Salam Pelajar,
PPI Wellington
REMINDER dan RALAT: Undangan - Kunjungan Wakil Menteri Pendidikan
Wednesday, February 8, 2012
Dear Teman-teman Mahasiswa Indonesia di Wellington,
Bersama ini kami bermaksud untuk mengingkatan bahwa pada:
Hari, Tanggal: Jumat, 10 Februari 2012
Pukul: 17.00 s/d 18.00
Tempat: Ruang Nusantara, KBRI Wellington
akan diadakan perbincangan bersama Wakil Menteri Pendidikan Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim
Bagi teman-teman yang tertarik untuk datang ke acara ini, kami mohon untuk dapat tiba di KBRI sebelum pukul 17.00.
Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih
Salam Pelajar,
Bersama ini kami bermaksud untuk mengingkatan bahwa pada:
Hari, Tanggal: Jumat, 10 Februari 2012
Pukul: 17.00 s/d 18.00
Tempat: Ruang Nusantara, KBRI Wellington
akan diadakan perbincangan bersama Wakil Menteri Pendidikan Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim
Bagi teman-teman yang tertarik untuk datang ke acara ini, kami mohon untuk dapat tiba di KBRI sebelum pukul 17.00.
Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih
Salam Pelajar,
PPI Wellington
Undangan pengajian Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW 1433H
Tuesday, February 7, 2012
Kepada: Teman- teman Umat Muslim Indonesia di Wellington dan sekitarnya
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H, dengan hormat kami mengundang seluruh Umat Muslim Indonesia di Wellington untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1433H yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Jum’at, 10 Februari 2012
Waktu : 18.00 malam
Tempat : Ruang Nusantara - KBRI
70 Glen Road, Kelburn – Wellington
Acara :
* Pembacaan Ayat Suci Al-Quran,
* Uraian Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Prof. Dr. Ir. H
Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
* Sambutan Duta Besar RI Wellington
* Makan malam
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
PPI Wellington
A.n. Kepala Perwakilan RI
Pelaksana Fungsi Pensosbud
Afina Burhanuddin
Sekretaris Kedua
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1433 H, dengan hormat kami mengundang seluruh Umat Muslim Indonesia di Wellington untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1433H yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Jum’at, 10 Februari 2012
Waktu : 18.00 malam
Tempat : Ruang Nusantara - KBRI
70 Glen Road, Kelburn – Wellington
Acara :
* Pembacaan Ayat Suci Al-Quran,
* Uraian Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Prof. Dr. Ir. H
Musliar Kasim, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
* Sambutan Duta Besar RI Wellington
* Makan malam
Demikian disampaikan, atas perhatian dan kehadirannya diucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
PPI Wellington
A.n. Kepala Perwakilan RI
Pelaksana Fungsi Pensosbud
Afina Burhanuddin
Sekretaris Kedua
Undangan - Kunjungan Menteri Pendidikan
Thursday, February 2, 2012
Dear Teman-teman Mahasiswa Indonesia di Wellington,
Bersama ini kami umumkan bahwa pada:
Hari, Tanggal: Jumat, 10 Februari 2012
Pukul: 17.00 s/d selesai
Tempat: Ruang Nusantara, KBRI Wellington
akan diadakan perbincangan bersama Menteri Pendidikan Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA
Bagi teman-teman yang tertarik untuk datang ke acara ini, kami harapkan untuk mengkonfirmasikan kehadiran/RSVP sebelum tgl 6 Februari 2012 dengan memberikan comment di post ini atau e-mail ke pelajarwellington@yahoo.co.nz
Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih
Salam Pelajar
Bersama ini kami umumkan bahwa pada:
Hari, Tanggal: Jumat, 10 Februari 2012
Pukul: 17.00 s/d selesai
Tempat: Ruang Nusantara, KBRI Wellington
akan diadakan perbincangan bersama Menteri Pendidikan Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA
Bagi teman-teman yang tertarik untuk datang ke acara ini, kami harapkan untuk mengkonfirmasikan kehadiran/RSVP sebelum tgl 6 Februari 2012 dengan memberikan comment di post ini atau e-mail ke pelajarwellington@yahoo.co.nz
Atas perhatian dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih
Salam Pelajar
PPI Wellington
Subscribe to:
Posts (Atom)